Monday, September 12, 2011

?

Disini saya duduk sambil memandang ke arah buku yang terbuka di meja, tanpa saya baca. Memegang kopi yang terletak di samping buku yang terbuka, tanpa saya teguk. Sesungguhnya saya telah meninggalkan sofa yang nyaman ini. Tubuh saya memang ada disini, terpaku seperti patung. Mata saya menatap, tapi tidak menatap. Telinga saya mendengar, tapi tidak mendengar. Bibir saya terkunci rapat tanpa memperlihatkan garis ekspresi. Saya tenggelam dalam pikiran saya yang saya sendiri tidak pernah tau seberapa dalam pikiran ini akan menenggelamkan saya. Jauh ke dalam. Meninggalkan realita. Dan saya pun tidak pernah tau cara menyelam. Itu sebabnya saya tenggelam. Dingin. Saya mengigil.

Saya selalu ingin bermimpi untuk bisa mengontrol segala yang berjejejalan di dalam pikiran saya. Tapi, saya tidak pernah diajarkan untuk menginginkan sesuatu, mengharapkan sesuatu, memimpikan sesuatu. Saya tidak bisa berharap, apalagi bermimpi. Satu-satunya cara untuk saya bisa bermimpi adalah menenggelamkan diri saya sendiri kedalam pikiran saya. Di dalam pikiran saya, saya akan menjadi seseorang yang terlihat seperti saya, tapi sangat sungguh disayangkan, orang itu bukan saya.

Pikiran saya berwarna-warni. Kadang merah, kadang jingga, kadang kuning, kadang hijau, kadang biru, kadang nila, kadang ungu, kadang semua warna bercampur dan akhirnya menjadi putih bersinar yang menyilaukan. Namun terkadang warna itu hilang sama sekali dan berganti menjadi warna hitam pekat gelap. Akhir-akhir ini saya jarang melihat warna dalam pikiran saya.

Saya masih disini, di sofa empuk nan nyaman. Diam tanpa berkedip. Mata saya kedutan, seperti ingin menangis. Menunggu air mata jatuh di pelupuk mata saya, sama saja seperti menunggu ayam mengeram telurnya untuk menetas. Lama sekali. Hampir-hampir saya lupa cara menangis. Ketika air mata itu hampir keluar dari tempatnya, sayapun akan memalingkan wajah saya dan tersenyum. Dan air mata itu akan kembali ke penampungannya.

Pelayan tiba-tiba menengur saya, bertanya apa perlu tambahan lain selain kopi saya. Saya menggeleng sambil tersenyum. Dia berlalu sambil menganggukkan kepalanya.

Kopi sudah mendingin. Tidak satu katapun yang ada dalam buku ini yang sudah saya baca. Saya menghela nafas. Menyesap sedikit kopi. Menandai halaman buku. Lalu memanggil pelayan untuk meminta bon. Dan beranjak pergi ke tempat lain. Tempat lain untuk mengumbar senyum palsu. Tempat lain untuk menenggelamkan diri dalam pikiran saya.

Mungkin lain kali saya harus mencoba menenggelamkan diri ke dalam danau di dekat rute lari pagi saya. Sepertinya air danau itu tidak terlalu dingin. Tidak sedingin pikiran saya.

Saya tersenyum. Lagi.

4 comments: